Written by 10:29 am Ruang Karya

Ku Tunggu Kepulanganmu Nak

Gambar dihasilkan dari AI

Cerpen Karya : Afif Alauddin

Sepasang kakek dan nenek duduk melamun di teras rumah. Saat waktu menjelang sore hari, saat mulai banyak suara tonggeret (dalam Jawa : cenggeret) mengeluarkan suara khasnya. Kiranya itu rutinitas mereka berdua di sore hari. Dengan duduk di kursi goyang, dengan pelan maju dan mundur mengikuti irama radio kesayangan. Teras rumah bersejarah itu menghadap langsung kandang kambing yang lurus tepat di depan rumah. Di kanan kiri rumah terdapat beberapa sayuran yang sekedar untuk lauk makan sehari-hari. Di tengah-tengah dua kursi tersebut terdapat satu kursi kayu yang terlihat cukup usang. Dua cangkir kopi yang gagangnya sudah hilang (potel) menemani obrolan mereka berdua di kala sore itu.

Di tengah-tengah obrolah hangat kakek nenek tersebut, terdengar sayup-sayup lagu berbahasa Jawa dari radio yang mereka putar. Lagu tersebut membuat mereka bernostalgia dengan masa-masa 20 tahun yang lalu:

“dek jaman berjuang … njur kelingan, anaak lanaang …

Mbiyeen tak openi, ning saiki ana ngendi …”

Tidak direncanakan, kakek dan nenek saling menatap, tidak terasa air mata mengalir membasahi pipi. Sejurus kemudian sambil sesenggukan nenek membuka obrolan,

“Pakne, dadi kelingan yo karo anak lanange awake dewe, saiki piye yo kabare” (Pak, jadi teringat ya dengan anak laki-laki kita, sekarang bagaimana kabarnya ya), ucap nenek.

“Iyo Bune, jaman mbiyen pas Tole ijek sekolah bendino awake bareng-bareng urip wong telu. Saben Tole bar sekolah melu awake neng sawah ngarit kanggo makani weduse. Tapi yo piye maneh, soyo gede, soyo nduwe butuh akeh. Awake yo ora mampu nyukupi kebutuhane Tole.” (Iya bu, jaman dulu saat dia masih sekolah kita bersama-sama hidup bertiga. Sepulang sekolah dia ikut ke sawah untuk mencari rumput buat memberi makan kambing. Tapi bagaimana lagi semakin besar semakin banyak kebutuhannya dan  kita juga tidak mampu mencukupi kebutuhan itu.

“Iyo Pak, aku gur kelingan wae soale wis bertahun-tahun. ndisik pamitan lungo golek butuh tapi teko saiki kok urung muleh-muleh. Saiki ayo didongakne wae mugo-mugo sehat slamet, ora ono alangan lan iso ndang muleh neng omah” (iya Pak, saya hanya teringat begitu sudah bertahun-tahun soalnya. dulu berpamitan pergi bekerja untuk mencari kebutuhan tapi sampai sekarang belum pulang-pulang. Sekarang mari kita doakan semoga sehat selalu dan lekas pulang ke rumah), jawab nenek.

“Aamiin”, jawab kakek kembali.

[Sekilas sebagai informasi, bahwa anak mereka bernama Bejo. Bejo berangkat bekerja ke luar negeri sejak lulus dari dari SMA. Saat awal-awal masih di luar negeri kakek dan nenek masih bisa kontak kan dengan Bejo lewat tetangganya. Tetapi saat masuk di tahun ketiga sudah kehilangan kontak dan tidak berkomunikasi.]

Saat terhanyut dalam obrolan suara kambing sahut-menyahut, “mbeeeek, mbeeeek”, itulah tanda waktunya memberi makan. Kakek menghela nafas, menyruput kopi dan beranjak menuju ke kandang kambing. Nenek juga demikian, ia segera ke pawon untuk mengambil sapu lidi guna membersihkan halaman rumah. Saat keduanya sibu dalam aktifitas datanglah kang Yono, yang tidak lain keponakan beliau. Sambil mendekat Yono memberikan sebuah kotak terbungkus rapi kepada kakek dan nenek.

Assalamualaikum”, Yono membuka dengan salam.

Waalaikumsalam”, jawab serentak kakek dan nenek.

Enek opo yon” (Ada apa Yon), Tanya kakek.

Iki mbah, aku dititipi bingkisan sing tulisane kon menehne jenengan” (ini mbah, saya dititipi paket yang tulisannya paket tersebut untuk kakek dan nenek).

Dengan wajah keheranan kakek dan nenek segera mencuci tangan dan menerima bingkisan tersebut. Pasangan tersebut merasa heran, selama ini tidak pernah mendapat paket apapun. Dengan penasaran membuka bingkisan tersebut. Saat bingkisan dibuka semakin kagetlah mereka berdua. Setelah dibuka ternyata isinya adalah amplop berisi sejumlah uang dan selembar kertas. Tidak lama, Yono diminta untuk membacakan surat tersebut:

“Salam dumateng bapak ibu …

Ngapunteng ingkang kathah bapak ibu, niki Bejo. Alhamdulillah nembe saget ngabari bilih sakpunika kulo sehat wal afiat, mugi-mugi bapak lan ibu semanten ugi. Kathah kahanan kang ndadoske kulo mboten saget ngubungi selama puniki. Insyaallah mboten dangu maleh kulo balek kampong. Mangke sedoyonipun kulo jlentrehaken dumateng bapak ibu.

Putro jenengan

Bejo.

(Salam untuk bapak ibu …

Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada bapak ibu, ini Bejo. Alhamdulillah baru bisa memberi kabar bahwasannya saya sehat wal afiat, dan semoga bapak ibu juga senantiasa diberikan kesehatan. Banyak hal yang terjadi dan tidak bisa saya ceritakan sehingga selama ini tidak bisa menghubungi bapak ibu. Insyaallah tidak lama lagi saya pulang dan akan menceritakan semuanya kepada bapak ibu.

Anak Jenengan

Bejo.)

Setelah surat dibacakan oleh Yono, kakek dan nenek spontan sujud syukur karena mengetahui putranya masih hidup dan selamat. Kakek nenek bangkit dan memeluk satu dengan yang lain karena sangat berbahagia. Belum selesai kebahagiaan tersebut diluapkan, dari kejauhan nampak seseorang mengendarai motor dengan pakaian tertutup, menggunakan jaket kulit, levis dan berkacamata, memarkirkan motor di sudut jalan. Orang tersebut turun dari motor mendekati kakek, nenek dan Yono. Setelah dekat, orang itu membuka jaket dan kacamatanya, nenek memandangi orang itu seperti terpaku dan tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi.

“Bejo? Anakku? …” nenek berteriak dengan nada bingung.

……….. (Bersambung) ……………

Visited 43 times, 1 visit(s) today
[mc4wp_form id="5878"]
Close