Liputan Oleh Agus Susanto
Jum’at, 11 Agustus 2025 bakda Maghrib tersebar kabar yang membuat hati tak percaya. Antara rasa sedih, rasa kehilangan, rasa yang mendoakan akan keselamatan tetapi semua rasa itu semakin membuncah setelah mendengar pengumuman dari toa masjid yang mengabarkan kepergian Bu Warti. Bu Warti pergi ke hadirat dalam keadaan suci karena hendak berjamaah sholat maghrib di masjid Muttaqin. Masjid tersebut seolah menjadi rumah kedua bagi Bu Warti setelah rumah kediaman pribadinya karena aktifitas Bu Warti selama tidak di rumah ya bisa dipastikan sedang di masjid.
Tulisan ini sebagai bentuk penghormatan dan sekaligus saksi dari seorang murid selama Bu Warti masih hidup. Kebaikan-kebaikan Bu Warti pantas untuk dikenang dan dijadikan ibrah kehidupan bagi kader-kader Persyarikatan Cabang Babadan. Umur boleh singkat tetapi amal baik yang terus disampaikan akan terasa panjang umur dan terus ada.
Penulis mengenal Bu Warti saat masih menjadi murid Madrasah Diniyah (Madin) Abdul Jalal Polorejo. Di mana, Bu Warti mengajarkan Bahasa Arab, Aqidah Akhlak, Juz Amma, Tajwid dan Imlak (menulis huruf Arab). Bu Warti mengenalkan huruf-huruf hijaiyah kepada penulis hingga bisa membaca tulisan Arab sampai saat ini. Pelajaran membaca huruf Arab tidak penulis dapatkan di sekolah pagi karena sekolah penulis di SD Negeri.
Setelah penulis tamat kelas 6 Madin, Bu Warti pindah menjadi guru di MIM 3 Ngunut hingga pernah sebagai Kepala Madrasah selama 13 tahun hingga beliau Pensiun dari pengabdian sebagai guru. Selain sebagai guru, Bu Warti juga aktif di Persyarikatan. Dimulai sebagai Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ketua Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Babadan, dan terus berlanjut sebagai Ketua PC Aisyiyah Babadan selama 2 (dua) periode.
Bu Warti tidak mewariskan kekayaan dan kemewahan kepada kader-kader penerus. Warisan beliau adalah potret keluarga beliau adalah keluarga ideal Muhammadiyah. Semuanya aktifis Persyarikatan. Bu Warti Aktif di Aisyiyah, suami beliau Bapak H. Musli aktif di Muhammadiyah, bahkan pernah sebagai Sekretaris PCM Babadan 2 (dua) periode. Anak-anak beliau semua juga aktif sebagai kader Persyarikatan. Pernah di IPM, IMM, NA dan Aisiyah hingga Pimpinan Daerah.
Semua didikan dari Bu Warti dan Pak Musli sangat berharga sebagai aset Pimpinan. Teladan bagi kita untuk menjadikan Uswah Hasanah pengkaderan dalam keluarga sangat diutamakan. Bahkan memilih menantu juga dari aktifis Pemuda Muhammadiyah, Tapak Suci, IPM, dan IMM. Bukti bahwa pengkaderan dimulai dari peran keluarga.
Selain itu warisan Bu Warti yang lain adalah selalu sigap dan siap sedia untuk diminta menjadi pemateri dalam setiap kesempatan. Baik pemateri pengkaderan maupun pemateri non formal seperti pengajian di lingkungan Babadan. Beliau ringan ilmu untuk berbagi dan menyampaikan dakwah dengan gembira. Raut muka Bu Warti teduh, tenang, bahasa yang disampaikan ringan dan mudah dicerna, tidak kemrungsung. Yang keluar adalah kata-kata penyemangat dan penuh hikmah.
Kini, sang panutan kader itu telah pergi selamanya meninggalkan kita. Allah menyayangi panjenengan Bu Warti. Insyaallah panjenengan husnul khotimah, semua amal dan ilmu yang telah diajarkan akan menjadi pahala yang akan terus mengalir karena diamalkan oleh banyak orang. Sugeng tindak Bu Warti, Suwargo Langgeng. Semoga Allah meridhoi panjenengan masuk Surga sebagaimana cita-cita dalam mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah “maka dengan Muhammadiyah ini, mudah-mudahan ummat Islam dapatlah diantarkan ke pintu gerbang Syurga Jannatun Na’im dengan keridlaan Allah Yang Rahman dan Rahim.”
Penulis :
Agus Susanto, S.T.,M.E.













